Mahasiswa KKN Unib Latih Petani Olah Limbah Jadi Pupuk dan Pakan Bernilai Ekonomi

- Jurnalis

Selasa, 30 Juni 2026 - 23:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beringininfo.id || Kaur, Maje – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 216 Universitas Bengkulu menggelar pelatihan pembuatan pupuk kompos dan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Balai Desa Tanjung Agung, Kecamatan Maje, Selasa (30/6/2026). Kegiatan ini ditujukan bagi kelompok tani dan warga setempat sebagai solusi mengubah limbah organik menjadi produk bernilai guna dan ekonomi.

Berdasarkan hasil pengamatan tim KKN, selama ini banyak warga yang membuang sisa dapur, daun kering, hingga kotoran ternak tanpa dimanfaatkan. Padahal bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi pupuk yang berkualitas.

“Kami juga memperkenalkan budidaya maggot BSF. Selain mampu mengurai sampah organik, kotoran maggot bisa dijadikan pupuk cair, sedangkan tubuh maggotnya sendiri kaya protein dan cocok untuk pakan ikan,” jelas salah satu pemateri, Yuliyanti.

Pelatihan dibagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama, peserta diajarkan langkah demi langkah membuat pupuk kompos cepat dari campuran sampah organik, cairan efektif mikroorganisme (EM4), dan sekam. Warga langsung mempraktikkan pencampuran bahan hingga proses fermentasi di dalam karung.

Baca Juga :  Ketika Hujan Tak Lagi Dapat Disalahkan: Analisis Kritis Hukum Lingkungan atas Banjir di Rejang Lebong  

Sesi kedua membahas budidaya maggot. Tim KKN membawa contoh biopond sederhana beserta bibit maggot BSF. Peserta dibimbing mulai dari penyiapan media, pemberian pakan, hingga cara panen yang optimal pada hari ke-14 pemeliharaan.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tanjung Agung, Edo, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini sangat dibutuhkan mengingat harga pupuk dan pakan ternak saat ini terus meningkat.

“Kalau bisa dibuat sendiri, biaya usaha bertani dan beternak pasti akan lebih hemat. Ini ilmu yang sangat bermanfaat,” ujarnya.

Salah satu peserta, Ahmad Supardi (45), mengaku baru mengetahui manfaat maggot dan berniat segera menerapkannya. “Saya punya akses ke limbah pasar. Nanti saya coba budidaya sendiri untuk pakan ikan lele saya,” katanya antusias.

Baca Juga :  Ketika Hujan Tak Lagi Dapat Disalahkan: Analisis Kritis Hukum Lingkungan atas Banjir di Rejang Lebong  

Ketua Kelompok KKN 216, Antoni, menyatakan program ini selaras dengan tujuan ketahanan pangan dan ekonomi sirkular di tingkat desa. Tim menargetkan terbentuknya satu unit rumah kompos percontohan dan dua biopond maggot sebagai contoh bagi warga lain.

Untuk menjaga keberlanjutannya, mahasiswa membentuk grup komunikasi daring guna memberikan pendampingan selama satu bulan setelah masa KKN berakhir.

“Harapannya ilmu ini tidak berhenti saat kami pulang, tapi terus dijalankan dan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan baru bagi warga Desa Tanjung Agung,” tutup Antoni.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pengelolaan limbah organik berjalan lebih baik, lingkungan desa menjadi lebih bersih, kebutuhan pupuk dan pakan terpenuhi, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Penulis : Myco

Editor : Admin MT

Berita Terkait

Ketika Hujan Tak Lagi Dapat Disalahkan: Analisis Kritis Hukum Lingkungan atas Banjir di Rejang Lebong  
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 23:28 WIB

Mahasiswa KKN Unib Latih Petani Olah Limbah Jadi Pupuk dan Pakan Bernilai Ekonomi

Kamis, 2 April 2026 - 18:53 WIB

Ketika Hujan Tak Lagi Dapat Disalahkan: Analisis Kritis Hukum Lingkungan atas Banjir di Rejang Lebong  

Berita Terbaru